Belajar Berjuang Dari Semut

Belajar Berjuang Dari Semut

Hari ini koki terbaik saya alias istri tercinta masak sebuah masakan istimewa yang memakai bahan dasar gula, sehingga rasanya agak sedikit manis, tentunya tetap lezat. Karena waktu masaknya pagi hari untuk sarapan dan kebetulan karena masak dalam jumlah yang lumayan banyak maka dipersiapkan sekalian buat menu makan siang (baca : rumus berhemat yang paling sederhana ) ,  sedangkan siang harinya kami beraktivitas diluar. Agak sorean baru kami kembali lagi kerumah. Betapa kagetnya kami, ternyata dirumah kami sudah ada ratusan bahkan ribuan semut yang berbaris rapi dari luar rumah sampai kedalam rumah, dan bisa ditebak mereka beramai ramai menuju masakan buatan istri saya, sejurus kemudian kami “bertarung sengit” dengan sang semut. Dengan sigapnya saya mengambil sapu dan menyapu bersih barisan semut yang ada, sedangkan istri dengan jurus tiupan dan tepukan maut berusaha mengusir semut yang sudah sampai dimangkuk masakan. Butuh waktu 5 menit lebih untuk memenangkan pertarungan sengit ini.

 

Setelah saya renungi ternyata ada pembelajaran berharga dari perjuangan semut-semut tadi yang bisa kita ambil hikmah dalam mencapai kesuksesan dalam hidup , yaitu :

 

  • Yang pertama : Semut selalu “peka” dengan yang namanya “peluang”

Semut menyadari benar dengan jelas dan detail  yang dibutuhkan dan diinginkan adalah makanan yang bercitarasa manis. Kemudian ia menggunakan seluruh potensi yang diberikan oleh tuhan berupa penciuman yang tajam untuk mencari peluang disekitar kita. Kawan begitu juga didalam hidup kita , kita harus mempunyai gambaran yang jelas dan detail mengenai apa yang kita impikan. Terus sadarilah potensi luarbiasa yang Tuhan berikan pada kita, pergunakanlah potensi kita untuk menjemput peluang itu,

 

  • Yang kedua : Semut sadar akan “harga” yang harus dibayar

Semut sadar benar dalam perjalanannya mendapatkan  makanannya ia akan menemui banyak ancaman yang bahkan bisa mengancam nyawanya, salah satunya perlawanan dari manusia, bisa berupa injakan, semprotan racun. Tapi itu semua bukan menghentikan langkahnya, tapi ia jadikan sebagai bahan kewaspadaan dirinya. Dalam kehidupan kita, tidak ada yang gratis, semuanya ada harga yang harus dibayar.

Apapun mimpi kita pasti ada harga yang harus kita bayar untuk mencapainya. Harga itu bukan melulu tentang uang, tapi bisa juga berupa pengorbanan waktu, tenaga, pikiran bahkan kesenangan kita. Seorang juara olimpiade misalkan, ia membayar harga berupa latihan keras setiap harinya, kedisiplinan, bahkan mengurangi waktu kesenangan dirinyan untuk mencapai tangga juara.  Mudahnya sanggupkah kita menunda kesenangan sesaat kita untuk menjemput kesuksesan hidup.

 

  • Yang ketiga : Semut segera bertindak dengan penuh kepasrahan

Semut dengan segala resiko yang ia ketahui, tetap bertindak, berjalan mendekati makanan yang diincarnya. Karena dia paham hanya dengan bertindak mendekati makanannyalah peluang memperolehnya semakin besar. Dan ia pun memasrahkan hasilnya sama tuhan yang maha kuasa. Kalaupun tuhan menakdirkan ia mendapatkan makanannya maka ia akan bersyukur tetapi jika ditakdirkan sang semut belum mendapatkan makanannya bahkan mati dalam proses perjalanannnya ia ikhlas. Dalam kehidupan kita, hanya bertindaklah yang mampu mendekatkan mimpi kita menjadi sebuah kenyataan. Sebagai makhluk yang beriman kita wajib percaya bahwa Tuhan pengatur segalanya, dan tuhan sedang mempersiapkan yang terbaik buat kita apapun hasil yang kita peroleh. So.. kunci pamungkasnya adalah ikhlaskan tindakannya dan pasrahkan hasilnya pada Tuhan.