Dahsyatnya Memberi

Dahsyatnya Memberi

Kita seringkali gemar memberi menunggu pada saat kita sedang dalam kelebihan rejeki, kisah berikut inisemoga bisa memberikan keyakinan baru kepada kita tentang “dahsyatnya memberi”

 

Disebuah desa tinggallah seorang nelayan bersama istri dan kedua anaknya. satu-satunya mata pencariannya adalah nelayan. Karena beberapa waktu ini laut sedang pasang, ombak lagi tinggi-tingginya, hasil melaut tidak seperti biasanya, turun drastis dan puncaknya saat ini. dari malam hingga pagi begini melaut, sang nelayan hanya membawa pulang 2 ekor ikan yang kecil ukurannya. Ia pun menjualnya kepasar dan hasilnya dipakai untuk membeli 2 bungkus nasi untuk dibawa pulang. dalam perjalanan pulang, ia bertemu pengemis tua dengan 2 orang cucunya yanv masih balita. karena iba mengetahui mereka 4 hari belum makan apapun, sang nelayan memberikan nasi bungkusnya pada sang pengemis. sesampainya dirumah, ia menceritakan kejadian tadi pada sang istri, sang istripun hanya bisa menghela napas panjang karena tidak ada satupun makanan yang bisa dimakan hari ini.
Satu jam kemudian tiba-tiba ada suara orang yang mengucapkan salam. ketika dibukakan pintu, orang tersebut ternyata anak dari kawan lama ayah sang nelayan. orang tersebut, menyampaikan bahwa ia datang untuk menjalankan wasiat dari orang tuanya untuk menyerahkan “hak” bagian dari ayah sang nelayan. ceritanya ketika zaman muda dulu, ayah mereke berdua sama-sama bekerja sebagai kuli bangunan dan berteman akrab. sampai suatu ketika diakhir bulan , ayah sang nelayan pergi entah kemana, padahal hari itu saatnya gajian. karena dianggap teman baik, gaji ayah sang nelayan dititipkan ke ayahnya untuk diberikan saat bertemu kelak. singkat cerita suatu hari ayah orang tersebut, hendak menjalankan suatu usaha, karena modalnya kurang maka dipinjem dululah titipan gaji ayah sang nelayan tersebut. Dan alhamdulillah usahanya maju dan berkembang hingga saat ini. dan sang nelayan berhak atas sebagian saham usaha dan bagi hasil selama sekian tahun yang jumlahnya ratuzan juta. sang nelayanpun berubah menjadi jutawan tapi tetap berhati dermawan, suka memberi dan membantu tetangganya yang kesulitan, menyumbang masjid, jalan dam sekolah yang ada didesa itu.
Cerita tidak berhenti sampai disini. suatu hari sang nelayan bermimpi, ia menemui ajalnya. sampai saat penimbangan amal baik dan dosanya, dalam mimpinya trlernyata semua kebaikan yang dikerjakan setelah ia jadi jutawan tidak mampu mengimbangi dosanya. hingga malaikat menanyakan amal apa lagi ia punya, sang nelayan pun teringat ia pernah memberikan 2 nasi bungkus pada pengemis tua dan cucunya pada saat ia sendiri dan keluarganya kelaparan juga. Malaikatpun setuju untuk menimbangnya dengan menyingkarkan terlebih dahulu semua amal kebaikannya pada saat ia kaya. Dan ternyata ajaib, 2 nasi bungkus yang diberikan mampu mengimbangi bahkan lebih berat timbanganny dibandingkan dosa2 yang pernah dilakukan.
Sahabat, amal itu beratnya bukan hanya berbanding lurus dengan besarnya amalan, tapi juga berbanding lurus dengan besarnya usaha dan pengorbanan kita saat mengerjakannya. So mulai saat ini jangan nunggu saat berlebihan dulu baru kita memberi, dalam kondisi apapun selalulah memberi dan berkontribusi buat sesama , maka kemudahan-kemudahan akan datang pada kehiduoan kita.