Hikmah Sebuah Tamparan

Hikmah Sebuah Tamparan

Terkadang kita senang berkomunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa yang kita sukai bukan dengan bahasa yang dimengerti oleh lawan bicara kita. Mentang – mentang kita berpendidikan tinggi lulusan luar negeri sukanya memakai bahasa yang membuat orang mengernyutkan dahi sebagai isyarat bingung tidak karu – karuan. Berikut ini kisah yang bisa menggambarkan hikmah tersebut.

Suatu hari ada seorang pemuda yang baru lulus kuliah S3 di luar negeri yang pulang ke rumah orang tuanya di sebuah kampung pelosok. Sesampainya di rumah sang pemuda menanyakan 3 hal kepada bapaknya yang kebetulan seorang guru ngaji, dengan gaya sok inteleknya ia bertanya tentang Ketuhanan. “Ayah, selama aku kuliah di luar negeri ada 3 hal yang mengganggu pikiran ku tentang Tuhan, karena menurutku sangat tidak rasional”. “Apa itu anakku?” Jawab sang ayah dengan bijak.

“Yang pertama, jika memang Tuhan itu ada coba gambarkan bentuknya atau warnanya supaya bisa di-visualisasi. Yang kedua Tuhan itu kayaknya tidak pintar, bagaimana tidak setan yang terbuat dari api dimasukkan kedalam neraka yang terbuat dari api bisa kesakitan. Yang terakhir saya tidak percaya yang namanya takdir, yang ada adalah apa yang terjadi itu karena saya merenacanakan. Misalnya saya sekarang ada dirumah karena saya merencanakan pulang kerumah.” Sang ayahpun kemudian dengan tersenyum mendekat kepada anaknya, kemudian dengan tiba – tiba menampar pipi anaknya. Sang pemuda kaget bukan kepalang, sambil memegangi pipinya yang sakit kemerahan, berkata “Ayah, saya ini orang intelek, terpelajar lulusan luar negeri, saya butuh jawaban yang rasional bukannya ditampar seperti ini.” Sang Ayah dengan tetap tersenyum arif, berkata Itu jawaban atas semua pertanyaanmu. Yang pertama, ketika aku menampar pipimu terasa sakit kan, coba kau jelaskan pada ayah bagaimana bentuknya rasa sakit itu minimal warnanya. Engkau tidak bisa menggambarkannya secara rupa tapi engkau bisa merasakannya itu sama seperti Tuhan yang mana kita tidak mampu melihat rupa fisiknya tapi kita bisa merasakan kebesaran-Nya dan kehadiran-Nya. Yang kedua, pipimu yang ayah tampar terbuat dari bahan kulit, tangan ayah yang dipakai untuk menampar juga terbuat dari bahan yang sama dengan pipimu yaitu kulit. Tapi ketika dipukulkan masih terasa sakitkan? itulah kuasanya Tuhan, setan pun akan merasa kesakitan di neraka walaupun bahan dasarnya sama sama dari api”. “yang ketiga, engkau pasti tidak pernah merencanakan pas diluar negeri sana ketika pulang kerumah nanti akan dapat tamparan dari ayah, itulah yang namanya takdir”. Sang pemudapun mengangguk tanda sepakat dengan apa yang dikatakan sang ayah, dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.

Sahabat hebat, begitu banyak isyarat – isyarat yang diberikan Tuhan disekeliling kita untuk kita selalu merasakan kebesaran-Nya, bahkan dengan isyarat kecil sekalipun. Dan barang siapa yang mau memperhatikan kemudian mengambil hikmah dari semua isyarat Tuhan, maka kelak hidupnya akan selalu disertai oleh tuhan yang maha esa.

 

Salam,

Asnando Danu