Menjadikan Karyawan Anda Berkarakter Pemenang

Menjadikan Karyawan Anda Berkarakter Pemenang

Perusahaan kelas dunia sudah membuktikan bahwa sumber daya manusia atau karyawan mempengaruhi berkembang tidaknya perusahaan. Perusahaan dimanapun didunia ini mengidamkan memiliki sepasukan karyawan yang berjiwa pemenang. Karakter pemenang sangat dibutuhkan karena mempengaruhi endurance (daya tahan) terhadap pemecahan tantangan serta fokus pada produktivitas yang terus berkembang.Ironisnya latar belakang pendidikan karyawan tidak menjamin memiliki karakter pemenang. Ada 5 tips sederhana terkait dengan membangun karakter karyawan anda sehingga menjadi pemenang..

Yang pertama , pastikan seluruh karyawan anda punya impian yang pasti
Impian ibarat sebuah garis finish yang jelas yang hendak kita capai, dengan adanya garis finish seorang pelari mampu mengerahkan semua tenaganya untuk mencapai finishnya. Ketika karyawan kita mempunyai impian yang jelas, maka akan timbul dorongan dahsyat untuk mencapainya, apalagi jika visi perusahaan bisa kita insertkan ke impian pribadinya. Hasilnya semangat kerja akan terus tercipta. Impian sebaiknya yang jelas pencapaiannya serta waktu tercapainya. Mudahnya semakin detail impian anda maka semakin mudah Allah dan para malaikatnya “mengamini” impian kita

Yang kedua, bantu temukan alasan yang kuat kenapa impian mereka harus terwujud
Jika impian ibarat tujuan atau garis finish, sedangkan alasan yang kuat ibarat dopping bagi para pelari untuk tetap fokus dan terus bergerak mencapai garis finish. Alasan yang kuat akan menjadi “dopping” bagi karyawan kita ketika dalam perjalanan hidupnya atau dalam aktivitas kerja mulai dihinggapi rasa jenuh, bosan bahkan putus asa. Alasan yang kuat sebaiknya bermakna menghindar dari sesuatu yang menyengsarakan atau mencapai sesuatu yang membahagiakan. Misal : jika saya tidak mencapai “impian” maka saya akan diremehkan oleh keluarga saya.

Yang ketiga : Berikan mindset yang benar mengenai hubungan kerja antar karyawan
Banyak yang salah kaprah mengartikan hubungan kerja antar karyawan, ada yang menganggap namanya karyawan pasti jadi “korban” manajemen ataupun owner perusahaan. Mereka selalu merasa terancam, tertindas dan perasaan menyiksa lainnya. Akibatnya selalu timbul rasa curiga dengan manajamen, bahkan jika diajak meeting muncul perasaan tertekan dan lebih memilih menghindar jika bisa. Yang harus ditanamkan adalah seluruh elemen perusahaan adalah bintang, punya andil penting dalam perusahaan. Semuanya punya satu orientasi memajukan perusahaan dengan saling support, saling bantu, saling perduli sesama karyawan. Manajemen bisa berperan sebagai keluarga, teman bahkan orang tua yang selalu care terhadap perkembangan karyawan. Cara yang paling mudah, bagi para manajemen jika ingin memberikan kritikan atau masukan bagi karyawan bisa memakai metode “sandwich”. Maksudnya awali dulu dengan pujian kemudian sampaikan kritikan / masukan secara proporsional kemudian lapisi lagi dengan penutup pujian diakhirnya.

Yang keempat : Ciptakan lingkungan juara
Lingkungan disekitar kita mempengaruhi cara berpikir, cara berucap bahkan cara bertindak kita. Karena sesungguhnya manusia adalah makhluk adaptif yang mudah dipengaruhi. Ciptakan lingkungan yang kondusif untuk selalu berprestasi. Berikan rangsangan koleksi buku-buku motivasi, kata-kata yang menginspirasi atau gambar2 yang menggugah. Berikan apresiasi bagi yang berprestasi, berikan evaluasi , dorongan serta solusi bagi belum menemukan performa puncaknya. Pakai metode “modellng”, maksudnya karyawan2 yang sudah menemukan performance puncaknya, pelajari pola kerjanya bahkan pola hidupnya, misalkan apa yang menjadi kebiasaannya, mulai dari judul buku yang dibaca, komunitas yang diikuti dan sebagainya, kemudian duplikasikan ke yang lain.

Yang kelima : Berikan Training / pelatihan
Training didunia pengembangan SDM ada 2 macam, yang pertama training terkait dengan softskill misalkan motivasi kerja serta pengembangan diri. Yang kedua training terkait penguasaan skill khusus terkait bidang yang digarap. Training ini mutlak diperlukan walaupun materinya sama, karena untuk memasukkan sebuah knowledge menjadi sebuah skill butuh praktek tindakan yang berulang-ulang. Sedangkan untuk training motivasi perlu diadakan bukan untuk memperbaiki kinerjanya tapi mempertahankan semangat kerja yang ada, karena secara fitrah semangat manusia cenderung menurun beriring dengan waktu.

 

SALAM SUKSES

Coach Asnando Danu